Penuhi Hati Dengan Cinta
Anda pasti sudah ribuan kali telah mendengar roman picisan seperti ini : seorang gadis manis bertemu dengan perjaka gagah di sebuah pesta. Ketika mata saling bertaut, mereka langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Singkat kata, akhirnya mereka menjalin cinta. Sepasang kekasih dimabuk asmara, selalu tak sabar untuk segera bertemu dengan pasangannya. Dunia benar-benar terasa indah, penuh semerbak bunga di mana-mana. Mungkin bahkan sebagian dari Anda telah merasakan pengalaman seperti ini, atau bahkan telah menutup cerita cinta ini dengan bersanding di pelaminan dan hidup bahagia bersama pasangan Anda selamanya.
Ya, jatuh cinta adalah salah satu kriteria untuk memilih pasangan. Sebuah Universitas di London membuat studi tentang proses jatuh cinta ini. Tujuh belas relawan dipilih dan dipindai otaknya sambil melihat beberapa lembar foto, salah satu foto diantaranya adalah foto pacar mereka. Ketika melihat foto teman-teman mereka, tidak nampak perubahan yang signifikan dari pencitraan otak mereka. Tetapi ketika melihat foto sang kekasih hati, di dalam sektor-sektor otak tampaklah sinyal-sinyal terang dari system sirkuit yang sangat spesifik, dan nampaknya memang terancang khusus untuk cinta romantis. Situasi ini serupa dengan seseorang yang mengkonsumsi kokain atau opium. Dengan kata lain, orang yang sedang jatuh cinta sama dengan pemakai narkoba : ketagihan!
Siapa yang bertanggung jawab terhadap kecanduan ini? Mari kita menyalahkan dopamin, zat kimiawi yang diproduksi otak ketika seseorang sedang jatuh cinta. Zat ini yang menimbulkan sensasi rasa nikmat, ekstasi , serta euphoria , sama dengan orang yang sedang berjudi atau kecanduan narkoba. Kemudian ada ciri adiktif. Tidak heran jika orang yang sedang dimabuk cinta ingin selalu berdekatan dengan sang buah hati.
Cerita tentang love poison ini tidak berakhir sampai di sini, karena ternyata kerja dopamin tidak sendirian. Sigmund Freud memperhatikan kemiripan yang nyata dalam keintiman fisik antara para kekasih dan antara ibu dan anaknya. Keduanya menghabiskan banyak waktu untuk saling bertatapan mata, saling peluk, saling mencium dengan cukup banyak kontak kulit ke kulit. Dalam kedua kasus, kontak seperti ini menimbulkan rasa bahagia yang terpuaskan. Kunci dari semua ini adalah zat bernama oksitosin yang dilepas oleh otak ketika kita sedang dekat dengan orang-orang yang kita cintai. Oksitosin ini merupakan kunci neurokimiawi terhadap hubungan kasih yang penuh komitmen. Mungkin inilah yang melanggengkan hubungan pernikahan, dan mengabadikan kasih ibu kepada anaknya.
Lalu apa hubungan cinta dengan creative thinking dan menjadi kreatif? Pelajaran apa yang bisa diambil setelah mengetahui kerja ajaib otak kita ketika sedang mencintai? Justru inilah pokok pembicaraan kita, kecintaan atau bahasa psikologisnya motivasi intrinsik. Mulailah segalanya dengan cinta! Lihatlah, betapa kekuatan cinta bisa menghasilkan energi yang kekuatannya tak terkira. Orang-orang yang paling kreatif di seluruh dunia adalah orang-orang yang sangat mencintai bidang yang digelutinya.
Jika Anda sedang jatuh cinta dan kecintaan Anda terhadap sang pujaan hati sangatlah dalam, Anda pasti memikirkan segala cara, sekali lagi segala cara yang mungkin bahkan yang sebagian orang dirasa tidak mungkin agar Anda bisa memenangkan hati sang pujaan. Bila kecintaan Anda terhadap seni sangatlah tinggi maka dengan sendirinya Anda selalu mencari cara agar karya seni Anda lebih baik, lebih variatif, lebih bernilai jual, lebih mudah dicerna, lebih dekat dihati para peminat seni. Dan bila Anda sangat mencintai bisnis Anda, tentunya Anda akan mencari informasi tentang bisnis yang digeluti, siapa saja kompetitornya, seberapa besar pasar yang tersedia, apa produk yang paling diminati, bagaimana bisa berbuat lebih baik dan hal ini berlaku juga pada kreatifitas!
Seseorang yang ingin kreatif di suatu bidang tertentu haruslah mempunyai kecintaan di bidang tersebut, karena cintalah yang akan memotivasinya untuk belajar, menggali informasi, memunculkan asumsi-asumsi baru terhadap fakta yang sudah ada, memaksa otak untuk berpikir, menggabungkan informasi yang satu dengan lainnya sehingga diperoleh ide-ide baru yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Cinta melahirkan persistensi. Mereka yang memiliki persistensi adalah pribadi-pribadi yang istiqomah dan tak kenal kata menyerah. Mereka melihat kesulitan sebagai tantangan serta kegagalan adalah suatu pelajaran yang memang harus dilalui. Cinta membangkitkan determinasi. Mereka yang memiliki determinasi akan bergerak lebih cepat dari yang lain dan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik, bukan seorang pecundang. Cinta menimbulkan komitmen, yang membuat seseorang tetap setia dengan apa yang dikerjakannya sampai kapan pun. Cinta adalah bara api yang membakar semangat untuk terus mencari pemecahan permasalahan, memperbaiki kondisi kini dan terus melakukan penyempurnaan.
Seorang fisikawan peraih Nobel ditanya apa yang membedakan antara ilmuan kreatif dan tidak kreatif ? Ia menjawab, pembedanya adalah “apakah kerja itu lahir dari cinta”. Ilmuan yang paling sukses dan inovatif tidak selalu yang paling berbakat, tetapi ilmuan yang didorong oleh rasa ingin tahu yang besar. Hingga tingkat tertentu, kecintaan yang kuat bisa mengimbangi kurangnya bakat. Dari kecintaan muncullah ketekunan. Orang yang peduli dengan kecintaan yang dalam tidak akan mudah menyerah dan jika orang bertahan dalam inovasinya, mereka akan terus maju.
Menjadi kreatif adalah suatu proses, sama dengan semua kejadian yang ada di muka bumi ini, dan suatu proses menurut saya adalah rentetan usaha tanpa kenal lelah untuk mencapai tujuan. Seperti yang diungkapkan oleh Thomas A Edison: 99% dari kejeniusan adalah prespirasi (berkeringat atau kerja keras), bukanlah inspirasi. Dan kecintaan Anda akan menemani kerja keras tersebut.
IKUTI SEMINARNYA DI KOTA MEDAN..!!!!Info lebih lanjut hub: Jamur Creation EO

0 comments:
Post a Comment